Bukan Tongkat Nabi Musa vs Tongkat Komando Kebijakan Presiden
Jakarta, Aceh: pas-tv.com (13-12-25)
Bukan Tongkat Nabi Musa, Tapi Tongkat Komando Presiden yang dibutuhkan Korban Bencana segera dan sekarang !
Dalam Kunjungan Presiden Prabowo Subianto ke pengungsian Aceh Tamiang, Bener Meriah, Jumat lalu, menyisakan jejak manis sekaligus "asam-manis" di telinga publik. Di tengah kepedihan korban banjir bandang dan longsor, Kepala Negara menyampaikan permohonan maaf dan sebuah analogi yang ikonik: "Saya minta maaf karena Presiden RI tidak punya tongkat Nabi Musa, tapi kita akan bekerja keras..."
Gimana ya, Pak... Sejak kapan rakyat Aceh dan seluruh Indonesia mengharapkan mukjizat supra-natural dari Istana?
Yang dibutuhkan warga adalah mukjizat super-aktual: bantuan material yang sat-set-sat-set, bukan slow-motion bak adegan film drama kolosal!
Presiden meminta masyarakat bersabar. "Tentunya kita butuh kesabaran dari bapak-bapak, ibu-Ibu sekalian. Karena tidak bisa kita seketika selesaikan semua itu ya," ujar beliau.
Mari kita bedah:
Korban Disuruh Sabar: Para penyintas ini sudah level Dewa Sabar sejak air bah menerjang, sejak rumah mereka ambrul tak bersisa. Mereka kehilangan harta, bahkan orang terkasih. Menyuruh mereka sabar saat kedinginan di tenda pengungsian, sementara perut keroncongan, rasanya seperti menyuruh The Flash berlari pelan.
Logistik Lamban: Di satu sisi, ada laporan bantuan dari negara tetangga yang "ditahan-tahan" atau dipersulit birokrasi. Di sisi lain, bantuan dari "negeri sendiri" pun datangnya... yah, begitulah.
lni bukan soal kecepatan jet tempur yang dikerahkan (puluhan helikopter, katanya!), tapi soal kecepatan mie instan, selimut, dan terpal sampai ke tangan yang tepat.
Cara bicara ala "kami bekerja keras, mohon maklum tidak punya tongkat Musa" ini, jujur saja, terdengar seperti meminta korban yang berempati kepada pemerintah, bukan pemerintah yang berempati total kepada korban. Hello, Bos! Role dan job-desc-nya tertukar, nih!
Bicara soal sumber daya, publik kini mulai berhitung-hitung dengan kalkulator satir.
"Anggaran MBG itu kabarnya bisa sampai Rp1 triliun per hari. Giliran bencana yang merenggut korban jiwa dan merusak ribuan rumah, kita malah bicara soal ketiadaan tongkat Nabi Musa?"
Apakah negara kita memang se-defisit itu sehingga penanganan bencana harus menunggu God intervention? Atau, jangan-jangan, yang mahal itu bukan bahan bangunannya, tapi izin untuk mencairkan anggaran yang sudah ada? Mungkin anggaran itu tersembunyi di balik Laut Merah, butuh tongkat nabi Musa untuk membelahnya.
Bencana Alam atau Bencana Kebijakan?
Dan ini dia plot-twist yang paling ngeselin (maaf, Pak):
Bagaimana bisa pemerintah meminta kesabaran pasca-bencana, sementara (di saat yang sama) diduga kuat kebijakan pemerintah sendiri yang support deforestasi lewat izin tambang dan sawit besar-besaran?
Bencana banjir bandang dan longsor di wilayah hutan seringkali bukan 100% natural disaster, tapi konsekuensi logis dari environmental disaster yang diizinkan.
Mari kita geser fokus. Korban sudah luar biasa sabar. Yang mereka butuhkan bukan ceramah soal kesabaran, tapi aksi nyata:
Stop dulu lawatan luar negeri (walau penting, Pak!), fokus ke recovery.
Ganti rumah sesuai janji, nggak pake lama.
Evaluasi total izin tambang/sawit di hulu sungai. Jangan sampai korban berikutnya adalah korban kebijakan.
Jadi ya, Pak Presiden… rakyat itu bukan minta mukjizat.
Tidak perlu belah lautan.
Tidak perlu tongkat Nabi mana pun.
Mereka korban butuh keputusan cepat lewat Tongkat Komando kepada Aparat terkait dengan cepat dan tepat sasaran
Mereka hanya meminta anggaran kebencanaan bekerja dengan mukjizatnya sendiri: yaitu tepat sasaran, cepat, dan bebas dari kabut birokrasi.
Mereka cuma ingin negara hadir lebih cepat daripada kamera, lebih dulu daripada konferensi pers, dan lebih sigap daripada kalimat “mohon sabar”.
Atau, kalau memang tongkat Nabi Musa tidak ada, mungkin kita bisa coba gunakan tongkat pengawasan anggaran yang lebih nyata?
Itu pun kalau tidak hilang tertimbun lumpur kebijakan
Tongkat Komando perlu Tongkat Pengawasan
#curhatrakyat: mediasi(fb)
Komentar via Facebook