Darurat Rakyat Sekarat di Gayo Lues dan Bener Meriah Kondisi terparah belum Terjamah

Darurat Rakyat Sekarat di Gayo Lues dan Bener Meriah Kondisi terparah belum Terjamah

Gayo Lues - Bener Meriah : pas-tv.com (14-12-25)

Tersentak kabar dari mereka yang baru turun keluar dari pedalaman Gayo Lues yang terputus dari semua akses darat dan signal udara pun tidak ada disana, mereka dengan berjalan kaki berhari hari untuk bertahan hidup dengan makan pisang, kelapa dan buah yang ada.

Dua daerah Kab. Gayo lues dan Bener Meriah di Aceh ternyata lebih parah kondisi kerusakannya luput dari expose media karena memang tidak terjangkau dan terisolir, mereka hari ini sedang berjuang lebih keras dari yang bisa kita bayangkan,

Bener Meriah dan Gayo Lues. Dua wilayah yang sama-sama terhimpit bencana, sama-sama kehilangan akses, dan sama-sama menunggu uluran tangan yang tak kunjung sampai.

Sudah lebih dari dua minggu mereka terisolir, Lebih dari 130 jembatan putus di Bener Meriah dan 80 Di Gayo Lues, puluhan kampung terputus dari dunia luar, tak ada sinyal, tak ada akses, tak ada kepastian kapan bantuan tiba.

Dan sementara mereka bertahan di tengah gelap, dari Negeri Jiran Malaysia ada kabar 500 ton bantuan yang sudah siap dikirim: beras, air, selimut, obat, keperluan bayi, hingga makanan darurat, tapi itu hanya kabar yang belum sampai ke mereka.

Meski itu sekadar logistik itu adalah harapannya orang-orang kampung, yang dikumpulkan oleh para perantau dengan air mata dan cinta.

Mereka tidak menunggu perintah.

Tidak menunggu rapat. Tidak menunggu status bencana.

Mereka bergerak karena kepedulian dan tidak butuh izin kalau sudah darurat kemanusiaan.

Tetapi bantuan itu kini masih tertahan, menunggu prosedur yang entah mengapa lebih lambat daripada bencana itu sendiri. Padahal nyawa tidak bisa menunggu.

Lapar tidak bisa menunggu.

Anak-anak yang menangis kehausan tidak bisa menunggu. Di Bener Meriah, seorang teman PNS bercerita: Hidup 10 hari di sini habis gaji sebulan, seorang pegawai negeri. Bagaimana masyarakat yang hidup dari ladang ladang yang kini hilang oleh longsor dan banjir?

Mereka berkata sesuatu yang membuat dada saya sesak: Selama ini saya hanya melihat kelaparan di Gaza melalui berita. tapi Hari ini, saya melihat kelaparan itu di depan mata saya sendiri,

di Bener Meriah, di Gayo Lues

di tanah kita sendiri, sangat prihatin

Kenyataan yang menyakitkan adalah Banyak relawan bahkan tidak tahu bahwa Gayo Lues terputus total.

Akibatnya, bantuan salah arah. Yang terlihat ramai dapat banyak.Yang terisolir tenggelam dalam sunyi.

Karena itu bantuan apa pun yang sudah ada jangan dipersulit.

Jangan tahan kapal. Jangan tahan logistik.Jangan tahan harapan hidup mereka,

Bencana bukan soal status nasional atau lokal atau dunia, ini soal nyawa manusia, soal ibu yang menahan lapar demi menyisakan makanan untuk anaknya, Soal lansia yang berjalan jauh mencari seteguk air.

Soal bayi yang kulitnya mulai ruam karena tak ada air bersih, Soal keluarga yang bertahan di rumah yang tinggal separuh.

Hari ini yang mereka butuhkan hanyalah satu: Negeri ini bergerak lebih cepat dari rasa lapar.

Suarakan Bener Meriah.

Suarakan Gayo Lues.

Buka jalan untuk bantuan. Jangan biarkan mereka menunggu lebih lama lagi.

Karena di sana di lereng Gayo, di lembah-lembah yang basah oleh hujan dan air mata, ada kehidupan yang sedang bertahan sekuat tenaga dan mereka tidak boleh dibiarkan sendirian.

Siapapun anda yang mendengar ini, ayo sampaikan ke mereka yang peduli sesama, Jemput mereka yang  terkurung di balik2 gunung,

#curhatkorban (Wa)