Tidak Perlu Berdebat Soal Bantuan lnternasional Yang Penting Korban Bencana Terselamatkan
Jakarta: pas-tv.com (18-12-25)
Kita sangat menyanyangkan sikap Pemerintah lndonesia yang tidak meminta atau menerima bantuan yang di tawarkan Dunia lnternasional dalam menghadapi musibah becana dahsyat Aceh Sumatera ini kata Ketua Forum Komunikasi Masyarakat Leuser (FKML) Burhan Alpin dari lokasi Bencana Aceh.
Kita tidak perlu berdebat masalah bantuan lnternasional saat rakyat sedang sekarat bertahan antara hidup atau mati kelaparan, yang penting Selamatkan dulu Nyawa mereka, Jangan seolah karena harga diri demi gengsi bangsa kita biarkan masyarakat menderita akibat penanganan yang lambat dan menyakitkan kata Alpin.
Padahal justru sebaliknya, apa yang di tawarkan Dunia lnternasional lansung atau lewat perwakilan mereka di Jakarta seperti UNDP Unicef dan lain lain harusnya kita terima dan syukuri, karena kepedulian mereka kita dihargai oleh Dunia, mereka mau membantu. seharusnya yang namanya kita sedang sekarat apapun bentuk bantuan yang ditawarkan untuk misi penyelamatan Nyawa anak bangsa harus kita terima dari manapun datangnya bahkan yang harampun bisa jadi halal kalau itu sebagai obat dalam kondisi gawat darurat ujarnya.
Kita lihat banyak media Asing menyoroti lambannya respon dan gerak pemerintah Indonesia, koordinasi penanganan yang kacau, serta faktor lingkungan dan kebijakan yang memperparah dampak bencana. Seperti tanggapan dari berbagai pemberitaan media asing mengenai penanganan bencana Aceh:"
Al Jazeera (Qatar) - Memberitakan langsung dari Aceh Tamiang, menyoroti korban selamat yang kini terancam penyakit dan kelaparan akibat bantuan terlambat datang. Wartawannya melaporkan desa-desa yang “lenyap” tersapu banjir serta menyebut tragedi ini bukan sekadar bencana alam, melainkan kegagalan sistemik dalam manajemen darurat.
•Channel NewsAsia (Singapura) - Melaporkan warga Aceh mengibarkan bendera putih sebagai tanda menyerah dan meminta pertolongan, karena tiga minggu pascabencana bantuan masih minim"
"South China Morning Post (Hong Kong) - Mengangkat kontroversi pernyataan pejabat Indonesia yang meremehkan bantuan Malaysia, menimbulkan kemarahan publik Malaysia. Komentar Menteri Dalam Negeri Tito Karnavian bahwa bantuan medis senilai US$60 ribu dari Malaysia “tidak seberapa” dibanding sumber daya Indonesia sendiri memicu kritik bahwa pemerintah Indonesia enggan berterima kasih dan terkesan menolak uluran tangan asing.
•ABC News (Australia) - Fokus pada akar masalah lingkungan, melaporkan tudingan aktivis bahwa deforestasi masif dan pemberian izin tambang oleh pemerintah turut memperparah banjir dan longsor. Disebutkan bahwa langkah pemerintah yang menyalahkan perusahaan justru dianggap “munafik” karena pemerintah sendiri menerbitkan ratusan izin penebangan dan pertambangan di Sumatra."
"menetapkan bencana ini sebagai bencana nasional, yang menghambat mobilisasi bantuan internasional dan pendanaan cepat.
Padahal, kerugian ekonomi nasional diperkirakan mencapai Rp68,6 triliun (±US$5,3 miliar), dan BNPB sendiri memperkirakan butuh sedikitnya Rp51 triliun (±US$4 miliar) untuk rekonstruksi. Kesenjangan ini luar biasa besar mengingat alokasi dana awal pemerintah hanya Rp500 miliar, kemudian dinaikkan menjadi Rp768 miliar setelah tekanan publik jumlah yang disebut sangat kecil dibanding kebutuhan.
Dalam nada reflektif, Daily Sabah menulis bahwa banjir Sumatra lebih dari sekadar bencana alam ini adalah ujian bagi kepemimpinan dan sistem pemerintahan Indonesia. Perubahan iklim akan membuat cuaca ekstrem makin sering, dan eksploitasi lingkungan memperbesar dampaknya.
Media asing mempertanyakan: mampukah pemerintah Indonesia belajar dari krisis ini? Apakah para pejabat akan memperbaiki koordinasi, mengutamakan keselamatan warga di atas pencitraan, dan membuka diri terhadap bantuan ketika dibutuhkan, seperti pada 2004?
Pertanyaan-pertanyaan ini muncul seiring sorotan tajam media internasional terhadap setiap langkah pemerintah Indonesia dalam penanganan bencana Aceh Sumatera.
Kesimpulannya, pemberitaan media asing secara umum memberikan cermin dari luar: banyak yang memuji ketangguhan dan solidaritas rakyat Indonesia, namun sekaligus mengkritik kelambanan, keengganan, dan ketidakmampuan sistemik pemerintah dalam merespons bencana besar ini.
Dari Aceh yang porak-poranda, dunia menyaksikan bahwa Indonesia “gagal emas” dalam ujian penanganan bencana kali ini, seperti disiratkan tagar #IndonesiaGagalIndonesiaEmas yang viral. Harapannya, sorotan internasional ini dapat mendorong evaluasi menyeluruh agar ke depan, nyawa rakyat tidak lagi menjadi korban kelambanan respons.
Pemerintah Indonesia dituntut mengambil pelajaran pahit ini ?“ memperbaiki sistem peringatan dini, memastikan dana darurat memadai. Melibatkan bantuan asing bila diperlukan, serta menjaga lingkungan demi mencegah tragedi kemanusiaan serupa terulang di masa mendatang.
Media asing saja sudah menyoroti bagaimana carut marutnya penangangan banjir langsor yang melanda Sumatera. Tentunya para korban lebih sengsara lagi. Apakah kita masih menutup nurani kita, mempertahankan “gengsi dan harga diri”.
Ayo Mr.Presiden ini belum terlambat buka mata hatimu, bukan karena Status Bencana Lokal, Nasional atau Global,
Semua Peduli Sesama sebagai tanggung jawab anak bangsa dan makluk Tuhan di Dunia ini.
ltu aja terimaksih tutup beliau prihatin.
sumber : dari berbagai info (Tim/al)
Komentar via Facebook